Monday, February 15, 2010

Fatwa Dua Kiai Deklarator PKB agar Rekonsiliasi

Metrotvnews.com, Jakarta: Upaya menyatukan kembali dua kubu yang berseteru di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa terus dilakukan. Dua kiai pendiri Partai Kebangkitan Bangsa, Kiai Haji Mustofa Bisri dan Kiai Haji Muchid Muzadi mengeluarkan fatwa agar kedua kubu kembali berunding untuk rekonsiliasi.

Surat berisi fatwa rekonsiliasi dari dua deklarator PKB yang tersisa tersebut ditunjukkan Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB Lili Wahid, belum lama ini.

Mustofa Bisri dan Muchid Muzadi mendasarkan fatwanya tersebut pada keprihatinan para kiai atas perpecahan PKB yang tak kunjung selesai. Dikhawatirkan perpecahan tersebut akan mengakibatkan kaum nahdiyin tersingkir dari peta politik Pndonesia pada 2014.

Selain mengeluarkan surat fatwa, para kiai NU rencananya juga akan menggelar pertemuan untuk membahas lebih lanjut rencana rekonsiliasi duo PKB.

Mungkinkah rekonsiliasi terjadi di tubuh PKB, mengingat perseteruan antara kubu Gus Dur dan kubu Muhaimin Iskandar cukup dalam dan mengakar? Bagi kubu Gus Dur, Muhaimin tak ubahnya pengkhianat yang tidak sulit dimaafkan. Hal ini tergambar dari sikap Yenni Wahid, putri Gus Dur yang tidak berubah sejak PKB mulai dilanda perpecahan hingga Gus Dur menghembuskan nafas.

Dalam musim kampanye pemilu tahun lalu, Yenni menyebut Muhaimin berkhianat karena haus kekuasaan. Pernyataan hampir senada disampaikan Yenni tak lama setelah ayahandanya wafat, beberapa waktu lalu. Ia mengisyaratkan akan tetap berjalan dengan PKB versi Gus Dur. "PKB resmi dan kami PKB yang asli," katanya.(BEY)

Sumber: metrotvnews.com

Sunday, February 7, 2010

Ribuan Orang Hadiri 40 Hari Gus Dur Wafat

Minggu, 7 Februari 2010 10:08 WIB

Metrotvnews.com, Jombang: Ribuan peziarah memadati Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Ahad (7/2). Mereka memperingati 40 hari wafatnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Mereka datang dari berbagai daerah.

Puncak acara tahlilan berlangsung setelah salat Isya. Namun, sekitar puluhan ribu peziarah mulai memadati areal halaman ponpes. Rata-rata mereka datang secara berkelompok dari berbagai daerah. Mereka rela berdesak-desakkan untuk mendoakan Gus Dur.

Untuk mengatisipasi membludaknya peziarah, panitia mengalihkan kendaraan mereka untuk parkir sekitar dua kilometer dari lokasi tahlilan.

Acara tadarus telah dilangsungkan pagi tadi oleh panitia Ponpes Tebuireng. Sedangkan puncak acara akan dipimpin Kiai Haji Mustofa Bisri atau Gus Mus. Perwakilan pihak keluarga yang datang adalah putri Gus Dur, Alissa dan Inayah Wahid serta adiknya Sollahudin Wahid. Sementara makam Gus Dur diberi pembatas. Hanya orang tertentu yang boleh mendekat.(*)

Sumber: www.metrotvnews.com

Tuesday, February 2, 2010

Islah PKB Pasca Gus Dur

Oleh: Muhammadun AS*


Pasca wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), nafas islah (rekonsilisasi) menghembus kencang di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Disamping kedua kubu yang bertikai selama ini, Cak Imin dan Yeni Wahid, saling beri’tikad baik untuk menjaga keutuhan PKB, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Muchith Muzadi (Mbah Muchith) juga memberikan dorongan kuat agar partai berlambang dunia bertali jagat ini semakin solid untuk menyongsong perjuangan di masa depan yang lebih kokoh. Gus Mus dan Mbah Muchith merupakan dua dari lima deklarator PKB yang masih hidup sekarang. Sedangkan ketiga deklarator lain sudah meninggal, yakni KH Munasir Ali, KH Ilyas Ruhiyat, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Bahkan kedua deklarator tersisa tersebut telah membuat surat untuk PKB pada 4 Januari 2010 yang ditulis Gus Mus dalam bahasa Arab pegon (bahasa Jawa-Indonesia dalam huruf Arab). Isi surat itu adalah mengingatkan kembali warga Nahdliyyin akan nasehat KH Hasyim Asy’ari yang selalu menekankan persatuan dan kekompakan. Persatuan yang selalu digelorakan Mbah Hasyim harus selalu dipegang warga Nahdliyyin dan warga PKB, jangan sampai terjerembab dalam kubangan konflik yang merusak dan menghancurkan. Karena itulah, kedua ulama’ ini mengharapkan adanya islah (rekonsiliasi) dengan mengesampingkan ambisi dan kepentingan kelompok yang sesaat.

Semangat islah yang ditiupkan dua deklarator PKB yang masih hidup ini menjadi monument penting bagi fungsionaris PKB dalam menata kembali partai yang sempat tercabik-cabik dari beragam konflik yang terus menerpa tak kunjung henti. Terlepas dari sifat kontroversial yang melekat dalam dirinya, Gus Dur pastilah bukan menginginkan lahirnya konflik yang justru membuat PKB semakin keropos dan kerdil. Gus Dur sebagai motor utama penggerak PKB berijtihad untuk menciptakan kader-kader muda militan yang kelak ketika beliau wafat seperti sekarang, PKB bisa dilanjutkan oleh generasi ideologisnya dalam memperjuangkan visi-misi PKB yang telah dirumuskan para pendiri.

Terbukti, jasa Gus Dur dalam membina politisi muda berkarakter telah melahirkan beragam bentuk anak muda PKB yang kritis dan progresif dalam menggerakkan roda partai. Di tengah berbagai terpaan konflik saja, anak muda ini tetap mampu membawa PKB dalam gerak politik yang penuh telikungan. Ini bukti bahwa pasca wafatnya Gus Dur, kader-kader PKB justru menemukan harapan besar untuk merealisasikan ide-ide besar Gus

Dur dalam memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Kader-kader muda PKB bisa menjadi lokomotif gerakan politik yang secara radikal melakukan perubahan besar bagi Indonesia di masa depan. Barangkali inilah tanggungjawab besar Gus Mus dan Mbah Muchid beserja jajaran DPP PKB untuk memberdayakan potensi besar anak muda didikan Gus Dur menjadi kader PKB masa depan. Gus Mus dan Mbah Muchith harus mempunyai andil besar dalam menggerakkan kembali kesolidan PKB dalam menatap masa depan. Makanya tepat sekali, surat islah yang ditandatangani keduanya merupakan bentuk tanggungjawab besar dalam menjaga keutuhan PKB. Kedua ulama’ khamismatik ini mempunyai kekuatan yang lumayan besar dihadapan kedua kubu yang bertikai, sehingga memungkinkan keduanya bisa melakukan gerak rekonsilisasi lebih cepat, sehingga konflik yang berlarut tidak mengorbankan konstituen PKB.

Pasca wafatnya Gus Dur, posisi politik kubu Cak Imin memang berada lebih unggul dibanding kubu Yeni Wahid. Selain Cak Imin merapat dengan kekuasaan, kader Cak Imin juga telah menguasai berbagai DPW PKB di berbagai wilayah di Indonesia. PKB versi Cak Imin masih bermesraan dengan kekuasaan, sehingga mendapatkan berbagai kemudahan lobi politik dalam menggerakan roda partai di berbagai daerah. Sementara versi Yeni Wahid yang bertolak dengan patron Gus Dur, posisi politiknya jelas melemah. Walaupun demikian, Yeni Wahid mengkantongi basis konstituen yang tidak sedikit, yakni mereka yang sudah “cinta mati” demi Gus Dur.

Para pecinta Gus Dur ini melihat PKB Gus Dur sebagai thoriqoh politik yang sulit tergantikan, tak lain karena memantapkan seluruh gerak jiwanya terhadap Gus Dur. Cinta mereka atas PKB Gus Dur bukan sekedar pilihan politik, tetapi sudah merambah pilihan teologis. Mereka memang tipologi konstutuen kaum tradisional yang menganggap Gus Dur bukanlah sekedar guru politik, tetapi sebagai “wali” politik yang total mereka ikuti seutuhnya. Kelebihan posisi konstituen Yeni Wahid inilah yang tidak dimiliki kubu Cak Imin.

Terpangkal dari plus-minus kedua kubu inilah, islah (rekonsilisasi) bagi PKB menjadi sangat krusial. Kalau kedua kubu masih berpijak pada kepentingan masing-masing, maka masa depan PKB akan semakin suram di masa depan. Partai kaum nahdliyyin bisa semakin terhempas dalam percaturan politik nasional, karena konflik elite PKB selalu melebar menjadi konflik horizontal para konstituen di lapisan paling bawah.

Lebih tragis lagi, konflik PKB juga membuat chaos yang merontokkan ikatan persaudaraan antar warga nahdliyyin. Resiko politik inilah yang harus disadari masing-masing kubu. Tetapi, melihat komitmen Gus Mus dan Mbah Muchith untuk merangkul kedua kubu, islah PKB bukanlah ide kosong. Islah PKB semakin mendekati nyata, sehingga elite PKB harus segera menyiapkan gerak bersama menyongsong gerakan politik yang lebih elegan di masa depan.

Islah PKB pasca Gus Dur ini harus memantapkan kembali “trisula” PKB, agar PKB semakin solid dan bermutu. Trisula tersebut adalah mensinergikan tiga hal penting, yakni kohesifitas kultur, kualitas program, dan kualitas kepemimpinan partai. Kultur PKB yang berbasis nahdliyyin tidaklah menghalangi untuk membuat program partai yang visioner dan mampu mengoptimalkan basis potensi konstituen dan kadernya. Menggerakkan kultur dan program ini jelas harus dikomandoni pemimpin partai yang bisa mengakomodasi elit partai, sehingga sang pemimpin mampu membangun managemen yang professional dalam tubuh PKB, termasuk mampu menjaga keutuhan partai kalau terjadi lagi badai konflik. Pengalaman masa lalu menjadi modal penting PKB untuk tegak berdiri di masa depan.

*Analis Sosial, alumnus Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang

Sumber: www.nu.or.id

Monday, January 4, 2010

Menuju Gus Dur Pahlawan

Senin, 4 Januari 2010 12:25 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Wacana gelar pahlawan nasional bagi Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengalir spontan dari berbagai kalangan. Gelar dinilai pantas diberikan, karena aksi Gus Dur dalam menegakkan demokrasi, keadilan dan perdamaian, kesetaraan, keutuhan bangsa yang majemuk dan pembelaan terhadap orang yang terpinggirkan.

Usulan pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur antara lain disampaikan Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Meski tindak kepahlawanan Gus Dur telah diakui banyak kalangan, pemberian gelar pahlawan masih harus melewati sejumlah proses. Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa dan kehormatan, usulan gelar itu harus diajukan oleh daerah tingkat dua ke provinsi dan nasional.

Usulan itu kemudian diteliti oleh dewan gelar yang beranggotakan tujuh orang dari kalangan akademisi, militer dan tokoh masyarakat. Pemberian gelar itu hanya bisa dilakukan pada saat hari besar, sepeti Hari Pahlawan 10 November, Sumpah Pemuda 28 Oktober dan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Namun, menurut mantan Ketua MPR, Amien Rais, gelar pahlawan bagi Gus Dur seharusnya diberikan secara otomatis oleh pemerintah. Apalagi, separuh hidup Gus Dur telah didedikasikan untuk bangsa dan negara.

Sejauh ini, Pemprov Jawa Timur sudah mulai memproses usulan masyarakat untuk mengangkat Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Menurut Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Uusuf, usulan itu akan didiskusikan dulu dengan para ahli sebelum diajukan ke pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Sementara pihak Istana Negara mengaku sudah mendengar usulan pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur. Rencananya masalah tersebut akan dibahas dalam rapat kabinet.(BEY)

Sumber: metrotvnews.com