Thursday, December 31, 2009

Jenazah Gus Dur Dimakamkan

Kamis, 31 Desember 2009 13:47 WIB

Metrotvnews.com, Jombang: Almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid dimakamkan di areal Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis 13.30 WIB. Prosesi pemakaman dilakukan secara militer yang dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Wakil Presiden Boediono pun tampak hadir mendampingi Presiden.

Hening dan duka sangat terasa saat jenazah diusung mendekati liang lahat. Proses pemakaman diawali dengan pembacaan riwayat hidup almarhum. Setelah itu, Presiden membacakan apel persada. Jenazah kemudian dimasukkan ke liang lahat. Saat itu juga solawat dan tahlil menggema mengiringi penurunan jenazah Gus Dur. Tak sedikit pelayat yang meneteskan air mata, beberapa di antaranya bahkan pingsan. Sementara satu kali tembakan salvo dilepaskan oleh pasukan TNI.


Setelah penutupan jenazah oleh papan, prosesi pemakaman dilanjutkan dengan tabur bunga oleh pihak keluarga. Setelah itu, Presiden SBY melakukan penurunan tanah secara simbolis ke liang lahat yang kemudian diikuti pihak keluarga.

Prosesi pemakaman berlangsung di bawah sinar matahari cukup terik. Kendati begitu, ribuan warga tetap bertahan hingga prosesi pemakanan selesai. Presiden SBY selaku inspektur upacara sempat beberapa kali menyeka muka dengan sapu tangan karena kegerahan.

Secara umum prosesi pemakaman berjalan lancar. Pemakaman berlangsung sederhana, sangat berbeda jauh dengan prosesi pemakaman mantan Presiden Soeharto yang penuh dengan kemewahan. Pemaman Gus Dur tidak dilakukan di bawah tenda mewah atau kompleks pemakaman miliaran rupiah. Gus Dur dimakamkan di kompleks Ponpes Tebuireng, pemakaman keluarga.

Gus Dur lahir di Jombang, 4 Agustus 1940. Ayahnya, Kiai Haji Wahid Hasyim adalah putra pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asy`ari. Ibunya, Hajah Sholehah juga keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri.

Ketika kecil, Gus Dur sempat bercita-cita menjadi tentara. Namun keinginan itu kandas di tengah jalan karena sejak berusia 14 tahun dia sudah harus memakai kacamata minus.

Menyelesaikan sekolah dasar di Jakarta, Gus Dur melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta hingga lulus pada 1957. Selepas itu, Gus Dur memasuki dunia pendidikan agama secara intensif.

Mula-mula Gus Dur menimba ilmu agama selama sekitar dua tahun di Pesantren Tegalrejo (Magelang) di bawah bimbingan Kiai Chudori. Selanjutnya di Pesantren Tambak Beras (Jombang), Gus Dur bekerja sambil meneruskan pendidikan di pesantren sebagai santri senior.

Pada usia 22 tahun, Gus Dur pergi haji dan melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Saat di luar negeri itu pula dia melangsungkan 'pernikahan jarak jauh' dengan Siti Nuriah. Pasangan ini kemudian dikaruniai empat putri: Alissa Munawarah, Arifah, Chayatunnufus, dan Inayah.

Menyelesaikan kuliah di Mesir (1966), Gus Dur pindah ke Baghdad, Irak. Dia masuk Department of Religion di Universitas Baghdad dengan spesialisasi ilmu sastra dan humaniora. Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademis ke sejumlah negara Eropa.

Kiprahnya di dunia politik dimulai sekitar awal 1980-an. Dia banyak menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, dan hak asasi manusia. Kiprahnya makin matang sejak dia terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar 1984 di Situbondo--justru ketika NU ditetapkan kembali pada khittah 1926 yang berarti NU menarik diri dari dunia politik praktis.

Gus Dur membawa NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meski belakangan hubungan Gus Dur dengan pemerintah merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto, posisinya sebagai Ketua Umum PBNU tak tergantikan selama dua kali muktamar berturut-turut: 1989 dan 1994.(DSY)

Sumber: metrotvnews.com

Wednesday, December 30, 2009

Gus Dur Wafat

Rabu, 30 Desember 2009 19:15 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat, Rabu (30/12) sekitar pukul 18. 45 WIB. Gus Dur mengembuskan napas terakhir akibat komplikasi jantung.

Direktur Utama RSCM Akmal Taher menjelaskan, penyakit yang diderita Gus Dur terbilang gawat. "Komplikasi gangguan jantung yang diperberat dengan kelainan ginjal dan kencing manis," kata Akmal.

Akmal menambahkan, kondisi Gus Dur mulai memburuk sejak siang tadi. Sistem pernapasan Gus Dur dan pembuluh darahnya mulai terganggu. "Kita sudah berusaha yang terbaik, tapi gagal," terang Akmal.

Adik kandung Gus Dur, Sholahuddin Wahid alias Gus Solah mengaku, terakhir bertemu kakaknya empat hari silam. Gus Dur sempat mampir ke Pondok Pesantren, Jombang.

"Jam 12 malam Gus Dur ke sini (Ponpes Tebuireng-Red). Itu terakhir kali saya bertemu," kata Gus Sholah seraya berharap, "Doakan semoga khusnul khotimah."

Gus Dur lahir di Jombang, 4 Agustus 1940. Ayahnya, Kiai Haji Wahid Hasyim adalah anak pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asy`ari. Ibunya, Hajah Sholehah juga keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri.

Ketika kecil, Gus Dur sempat bercita-cita menjadi tentara. Namun keinginan itu kandas di tengah jalan karena sejak berusia 14 tahun dia sudah harus memakai kacamata minus.

Menyelesaikan sekolah dasar di Jakarta, Gus Dur melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta hingga lulus pada 1957. Selepas itu, Gus Dur memasuki dunia pendidikan agama secara intensif.

Mula-mula Gus Dur menimba ilmu agama selama sekitar dua tahun di Pesantren Tegalrejo (Magelang) di bawah bimbingan Kiai Chudori. Selanjutnya di Pesantren Tambak Beras (Jombang), Gus Dur bekerja sambil meneruskan pendidikan di pesantren sebagai santri senior.

Pada usia 22 tahun, Gus Dur pergi haji dan melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Saat di luar negeri itu pula dia melangsungkan 'pernikahan jarak jauh' dengan Siti Nuriah. Pasangan ini kemudian dikaruniai empat putri: Alissa Munawarah, Arifah, Chayatunnufus, dan Inayah.

Menyelesaikan kuliah di Mesir (1966), Gus Dur pindah ke Baghdad, Irak. Dia masuk Department of Religion di Universitas Baghdad dengan spesialisasi ilmu sastra dan humaniora. Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademis ke sejumlah negara Eropa.

Gus Dur pulang ke Tanah Air 1971 dan menjadi pengajar teologi dan beberapa ilmu agama di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy`ari. Selanjutnya sejak 1974 dia dipercaya sebagai Sekretaris Pesantren Tebuireng. Berbarengan dengan itu nama Gus Dur mulai dikenal melalui tulisannya di berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal.

Kiprahnya di dunia politik dimulai sekitar awal 1980-an. Dia banyak menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, dan hak asasi manusia. Kiprahnya makin matang sejak dia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo--justru ketika NU ditetapkan kembali pada khittah 1926 yang berarti NU menarik diri dari dunia politik praktis.

Gus Dur membawa NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meski belakangan hubungan Gus Dur dengan pemerintah merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto, posisinya sebagai Ketua Umum PBNU tak tergantikan selama dua kali muktamar berturut-turut: 1989 dan 1994.

Sebagian orang menilai gagasan dan tindakan Gus Dur kontroversial dan mengejutkan. Bukan sekali dua kali dia melawan arus. Gus Dur bahkan pernah menggagas mengganti salam assalamualaikum dengan selamat pagi.

Gus Dur pun sempat mengejutkan banyak orang karena berkunjung ke Israel pada 1994. Bahkan, sepulang dari Negeri Zionis, Gus Dur menyarankan pemerintah membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Gus Dur seolah memantapkan gelarnya sebagai tokoh kontroversial ketika beberapa kali menyambangi Soeharto setelah penguasa Orde Baru itu lengser. Kontroversi lainnya, dia dicalonkan sebagai presiden bukan oleh PKB yang dideklarasikannya, tapi justru oleh beberapa partai Poros Tengah.(ICH)

Sumber: metrotvnews.com